Jumat, 11 Januari 2008

Malang Tempo Doeloe

Penganter: Ini toelisan saja tampilken sebage penambahan jang ditoelis oleh Mbah Soekardji Ranoeprawiro jang mantan seorang wartawan dan pejoeangan, atas toelisan-toelisan dari Opa Kwee Thiam Tjing sewaktoe ia berada dikota Malang taon 1941-47 sewaktoe ia boeat boekoe Indonesia dalem Api dan Bara. Tjamboek Berdoeri 28.
Tempat Hiboeran Tempo Doeloe
Oleh Mbah Sukardji Ranuprawiro (70 th.)
Mantan Wartawan dan Pejuang GRK

Sarana hiburan utama di jaman itu adalah bioskop. Gedung-gedungnya berlokasi dikawasan tempat kerarmaian kota. Di Kayutangan terletak gedung bioskop 'Roxy' yang sekarang menjadi 'Mardeka'. Di JI. Merdeka Timur (dulu 'Aloen-aloen Oost'), Gedung 'Rex' kemudian menjadi 'Ria' dan sekarang berubah menjadi gedung 'Lippo Bank'. Terletak berdampingan di Jl. KH. Agus Salim gedung bioskop 'Globe' (Surya) dan 'Grand' (Agung). Keduanya sekarang tinggal namanya seja Gadungnya berubah menjadi pusat parbelanjaan 'Mitra I'. Di bagian timur Jl. KH. Agus Salim itu terdapat gedung bioskop 'Atrium' yang kemudian menjadi 'Ratna' dan sekarang berubah total menjadi pusat perbelanjaan 'Malang Plaza'.
Kalau semua gedung bioskop itu terbuka untuk umum (seluruh warga kota) maka 'Atrium' itu merupakan gedung bioskop 'rasialis'. Hanya orang-orang Belanda saja yang boleh menonton disitu, baik sipil maupun militer. Hanya golongan bintara serdadu Knil non Belanda saja yang diperbolehkan masuk menonton pertunjukkan film di 'Atrium' dan mereka diharuskan berpakaian seragam hijau. Di sudut Jl. KH. Agus Salim dan Jl. Zainul Arifin (Kidul Dalem) berlokasi sebuah gedung bioskop 'Flora', tak lagi digunakan sebagai gedung bioskop tapi berubah fungsi sebagai tempat pertunjukkan wayang orang atau ketoprak.

Di Jl. Gatot Subroto (dulu 'Meubelmaker Straat') Gang 'Brintik' terdapat sebuah gedung pertunjukkan bernama 'Orient" dan di jaman 'tempo doeloe' digunakan sebagai tempat pementasan ludruk. Sebuah lainnya lagi di Jl. Gatot Subroto bernama 'Centrum' dan sampai sekarang tetap berfungsi sebagai gedung bioskop dengan nama 'Jaya'.
Di Jl. Klenteng berlokasi gedung bioskop 'Emma' yang sekarang berubah menjadi 'Mulia'. Di gedung 'Mulia' itu dulu diputar film-film Indonesia produksi Perusahaan Film Tan dan Wong Bros. Menampilkan bintang-bintang film hebat seperti Raden Mochtar, mendiang suami isteri Kartolo - Miss Rukiati (orang tua kandung penyanyi Rahmat Kartolo), Miss Titing, Miss Annie Landouw (tuna netra), R. Kosasih, Effendi, Dadang Ismail, R. Djumala, Rodiah dan lain-lain. Perusahaan Film 'Java lndustrial Film - JIF' menampilkan 'Tarzan Indonesia' almarhum Moch. Mochtar, almarhuman Hadidjah (ibu kandung pemain biola terkenal Idris Sardi), Tan Tjeng Bok (almarhum), M. Bissu (almarhum) dan lain-lain lagi. Setiap kali memutar film Indonesia produksi kedua perusahaan film itu gedung 'Emma' selalu penuh penonton. Harga karcis di luar loket meningkat beberapa kali lipat. Bahkan gara-gara selembar karcis bisa menimbulkan perkelahian di antara penonton.

2 komentar:

Aryo Sanjaya mengatakan...

Malang emang dinamis.
Dari tahun 1997 sampai 2007 saya di Malang, perubahannya sudah banyak sekali, sampai-sampai 1997 seakan sudah menjadi kenangan lama.

Yohanes Widianto mengatakan...

wahh dapat darimana foto itu... jadi teringat masa lalu , saya lahir di kota malang sampai sekarang masih setia di sini... waktu taman kanak kanak bersekolah di tk taman harapan yang lokasinya berada beberapa puluh meter dari gedung bioskop Agung...
memang jauh sekali beda nya .. yah nama nya kemajuan dan perkembangan jaman... semua tinggal memory...